
MEDAN – Momen mengharukan terjadi saat Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengunjungi seorang siswa yang masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum (RSU) Haji Medan, Minggu (16/8/2026). Siswa tersebut merupakan salah satu korban dugaan keracunan setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Dalam kunjungan itu, Sudaryono terlihat emosional. Ia mengaku dilanda perasaan campur aduk antara sedih dan marah menyaksikan kondisi korban yang hingga kini masih dalam pemantauan intensif tim medis. “Jadi mohon maaf saya, perasaan saya antara sedih sama marah perasaan saya hari ini,” ungkap Sudaryono usai menjenguk pasien tersebut.
Ia menjelaskan, rasa sedihnya muncul karena masih ada korban yang harus menjalani perawatan akibat insiden tersebut, sementara rasa marahnya lahir dari kekecewaan atas penyebab kejadian yang menurutnya berasal dari kelalaian di lapangan. Kondisi siswa yang sempat kritis dan sempat menjalani perawatan di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) itu disebut Sudaryono terus membaik, meski tetap memerlukan pengawasan ketat. Ia bahkan meminta pihak rumah sakit dan Dinas Kesehatan setempat mengabarkan perkembangan kondisi pasien secara berkala kepada BGN.
Kunjungan ke RS Haji Medan ini merupakan bagian dari rangkaian peninjauan Sudaryono terhadap sejumlah fasilitas kesehatan yang menangani ratusan pelajar korban dugaan keracunan MBG, setelah sebelumnya juga mendatangi beberapa rumah sakit di wilayah Kabupaten Karo. Dalam kunjungan tersebut, ia didampingi Wakil Ketua DPRD Sumatera Utara dari Fraksi Gerindra, Ikhwan Ritonga, serta disambut langsung Bupati Karo, Antonius Ginting.
Berdasarkan data terbaru yang dikonfirmasi Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution, jumlah korban dugaan keracunan MBG di Karo tercatat mencapai 353 siswa, meningkat dari data awal sebanyak 255 siswa. Peristiwa itu bermula pada Kamis (13/8/2026), ketika ratusan pelajar dari sejumlah sekolah di Berastagi, di antaranya SMA Negeri 1 Berastagi dan Perguruan Bersama Berastagi, mengalami gejala seperti lemas, mual, muntah, hingga kejang usai menyantap menu MBG. Para korban sempat dievakuasi ke sejumlah fasilitas kesehatan di Berastagi dan Kabanjahe, dengan sebagian di antaranya dirujuk ke rumah sakit di Medan untuk perawatan lebih intensif.
Dalam kesempatan yang sama, Sudaryono juga mengungkapkan hasil investigasi sementara terkait penyebab dugaan keracunan tersebut. Menurutnya, persoalan bersumber dari kelalaian dalam pengelolaan bahan baku ikan di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat. Sebagian besar ikan memang telah disimpan di lemari pendingin (freezer), namun sekitar 200 hingga 300 ekor ikan dibiarkan berada di suhu ruangan selama kurang lebih 12 jam sebelum diolah. “Ikan basah tidak ditaruh ke dalam freezer, mohon maaf, itu suatu kebodohan dan kelalaian,” tegas Sudaryono.
Sebagai bentuk tanggung jawab atas insiden tersebut, BGN telah menghentikan sementara operasional SPPG yang bersangkutan serta mengajukan pemecatan dengan tidak hormat (PDTH) terhadap kepala dapur SPPG terkait. Sudaryono juga sebelumnya telah menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada Bupati Karo melalui sambungan video pada Jumat (14/8/2026), sehari setelah kejadian, sekaligus memastikan proses investigasi turut melibatkan Dinas Kesehatan setempat untuk pengambilan sampel makanan.
Sudaryono menegaskan, kejadian di Kabupaten Karo menjadi pelajaran penting sekaligus bahan evaluasi besar bagi seluruh jajaran BGN di berbagai daerah agar setiap tahapan penyediaan makanan program MBG. mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi—mendapat pengawasan yang lebih ketat ke depannya. “Kalau enggak mampu jadi kepala dapur, kalau enggak mampu jadi chef, kalau enggak mampu jadi petugas di situ, kau mundur aja. Karena nyawa seseorang enggak bisa dipertaruhkan begini,” tegasnya kepada seluruh jajaran SPPG di Indonesia.
