
DELI SERDANG – Kasus dugaan pelecehan seksual terhadap siswi sekolah dasar (SD) mengguncang warga Dusun Rimo Mungkur, Desa Bekukul, Kecamatan Namo Rambe, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Terduga pelaku merupakan seorang oknum guru agama berinisial J yang dilaporkan berdomisili di Kecamatan Delitua. Peristiwa tersebut terungkap pada Selasa (27/10/2026) dan langsung memicu reaksi keras dari orang tua murid serta warga sekitar. Kemarahan massa sempat memuncak hingga terduga pelaku nyaris menjadi sasaran amuk. Kabar tersebut dengan cepat menyebar dan menyita perhatian masyarakat luas.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kasus ini terbongkar setelah salah satu siswi menceritakan kejadian yang dialaminya kepada orang tuanya sepulang sekolah. Anak tersebut mengaku mengalami perbuatan tidak pantas yang diduga dilakukan oleh gurunya di lingkungan sekolah. Cerita itu membuat orang tua korban terkejut, terpukul, dan tidak dapat menerima perlakuan yang menimpa anaknya. Keberanian sang anak untuk bercerita menjadi titik awal terungkapnya dugaan perbuatan asusila tersebut. Identitas korban sengaja tidak dipublikasikan demi melindungi kondisi psikologis dan masa depannya.
Tidak terima atas pengakuan anaknya, orang tua korban langsung mendatangi sekolah tempat kejadian. Mereka datang bersama sejumlah warga setempat yang turut geram setelah mendengar kabar tersebut. Kedatangan rombongan itu membuat suasana di lingkungan sekolah menjadi tegang dalam waktu singkat. Para orang tua menuntut kejelasan dan pertanggungjawaban atas dugaan perbuatan yang menimpa anak mereka. Aktivitas belajar di sekolah pun ikut terganggu akibat situasi yang kian memanas.
Situasi sempat tidak terkendali ketika kerumunan massa yang tersulut emosi berkumpul di halaman sekolah. Sebagian warga berteriak menuntut agar terduga pelaku diserahkan kepada mereka. Ketegangan itu membuat terduga pelaku nyaris menjadi korban main hakim sendiri. Kondisi tersebut mengundang kekhawatiran para guru karena puluhan siswa lain masih berada di lokasi. Suasana baru mereda setelah sejumlah pihak berupaya menenangkan massa yang sedang marah.
Amukan massa dapat diredam berkat gerak cepat para guru di sekolah tersebut bersama aparat kepolisian dari Polsek Namo Rambe. Petugas segera mengamankan terduga pelaku ke dalam ruangan kantor sekolah untuk menghindari tindakan kekerasan lebih lanjut. Langkah tersebut dinilai tepat karena mampu mencegah jatuhnya korban dan memperburuk keadaan. Polisi juga berjaga di sekitar lokasi guna memastikan situasi tetap kondusif. Kehadiran aparat membuat massa berangsur tenang meskipun kekecewaan mereka belum sepenuhnya reda.
Setelah situasi terkendali, terduga pelaku dibawa oleh pihak berwajib untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Pemeriksaan tersebut dilakukan guna mendalami kronologi kejadian secara menyeluruh dan rinci. Polisi juga diperkirakan akan memintai keterangan dari korban, orang tua, serta saksi-saksi di lingkungan sekolah. Seluruh rangkaian proses tersebut akan dijalankan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Hingga berita ini disusun, pihak kepolisian belum merinci hasil pemeriksaan terhadap terduga pelaku.
Perlu ditegaskan bahwa J masih berstatus terduga pelaku dan belum dinyatakan bersalah oleh pengadilan. Asas praduga tak bersalah tetap harus dihormati selama proses hukum berjalan. Meski demikian, dugaan kekerasan seksual terhadap anak merupakan persoalan serius yang wajib diusut tuntas. Masyarakat diminta mempercayakan penanganan perkara ini kepada aparat penegak hukum. Tindakan main hakim sendiri justru dapat menimbulkan persoalan hukum baru dan tidak menyelesaikan masalah.
Kasus ini kembali menyoroti pentingnya perlindungan anak di lingkungan satuan pendidikan yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi mereka. Pihak sekolah dan dinas terkait diharapkan memperketat pengawasan serta menyediakan saluran pengaduan yang mudah diakses siswa. Orang tua juga diimbau membangun komunikasi terbuka dengan anak agar mereka berani bercerita saat mengalami hal yang tidak nyaman. Pendampingan psikologis bagi korban dinilai sangat diperlukan untuk membantu pemulihan jangka panjang. Berbagai kalangan berharap kejadian serupa tidak lagi terulang di sekolah mana pun.
Sejumlah pihak mendesak agar perkara ini ditangani secara transparan, cepat, dan berpihak pada korban. Mereka menilai pelaku kekerasan seksual terhadap anak harus mendapat sanksi tegas sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dukungan dari pemerintah daerah, lembaga perlindungan anak, dan tenaga psikolog dinilai penting untuk mendampingi korban dan keluarganya. Pihak sekolah pun diharapkan bersikap kooperatif dengan membantu proses penyelidikan hingga tuntas. Publik kini menanti perkembangan penanganan kasus yang melukai rasa keadilan masyarakat ini.
Hingga berita ini diturunkan, proses pemeriksaan terhadap terduga pelaku masih berlangsung di bawah penanganan pihak berwajib. Kepolisian diharapkan segera menyampaikan perkembangan resmi agar tidak terjadi simpang siur informasi di tengah masyarakat. Warga diimbau tidak menyebarkan identitas korban maupun informasi yang belum terverifikasi kebenarannya. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa perlindungan terhadap anak merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Perkembangan lebih lanjut terkait kasus ini akan terus dipantau oleh berbagai pihak di Kabupaten Deli Serdang.
