
MAHASISWA – Aksi unjuk rasa yang digelar mahasiswa di Sumatera Utara berlangsung dengan tensi tinggi. Demonstrasi tersebut menjadi sorotan publik karena sempat memicu ketegangan di lapangan.
Mahasiswa yang tergabung dalam BEM SI Kerakyatan Sumatera Utara turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasi mereka. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap isu yang tengah berkembang.
Unjuk rasa berlangsung di depan Gedung DPRD Sumatera Utara pada Selasa, 31 Maret 2026. Lokasi tersebut menjadi pusat penyampaian tuntutan mahasiswa.
Aksi ini dipicu oleh insiden yang dialami Andrie Yunus yang menjabat sebagai Wakil Koordinator di organisasi advokasi hak asasi manusia.
Organisasi tempat Andrie bernaung, yakni Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, dikenal aktif dalam mengawal isu-isu HAM di Indonesia.
Mahasiswa menilai insiden tersebut perlu mendapatkan perhatian serius dari aparat penegak hukum. Mereka mendesak adanya transparansi dalam penanganan kasus.
Dalam jalannya aksi, massa sempat melakukan pembakaran ban bekas sebagai bentuk protes simbolik. Aksi ini menandakan tingginya kekecewaan yang dirasakan peserta demonstrasi.
Situasi mulai memanas ketika sejumlah massa mencoba merangsek masuk ke dalam gedung DPRD. Hal ini memicu respons dari petugas keamanan yang berjaga di lokasi.
Petugas kemudian berupaya mengendalikan situasi agar tidak terjadi bentrokan yang lebih besar. Langkah pengamanan dilakukan untuk menjaga ketertiban umum.
Meskipun sempat terjadi ketegangan, aparat dan massa berusaha menahan diri. Dialog menjadi salah satu cara untuk meredakan situasi di lapangan.
Mahasiswa menyampaikan tuntutan agar kasus yang dialami Andrie Yunus diusut secara tuntas. Mereka juga meminta jaminan perlindungan bagi para aktivis.
Aksi ini mencerminkan peran mahasiswa sebagai agen perubahan sosial. Mereka menyuarakan aspirasi masyarakat melalui jalur demonstrasi yang dijamin undang-undang.
Pihak DPRD diharapkan dapat menampung aspirasi tersebut dan meneruskannya kepada pihak terkait. Hal ini penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap lembaga negara.
Peristiwa ini juga menjadi pengingat pentingnya menjaga kondusivitas dalam menyampaikan pendapat di muka umum. Semua pihak diharapkan dapat mengedepankan dialog.
Hingga aksi berakhir, situasi berangsur kondusif meskipun sempat memanas. Demonstrasi ini menjadi salah satu bentuk dinamika demokrasi yang terjadi di tengah masyarakat.
