
BERITAPELITA.COM – Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara mencatat meningkatnya kasus penyakit pascabencana banjir. Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA menjadi penyakit paling dominan. Selain itu, penyakit kulit juga banyak diderita pengungsi. Kondisi ini terjadi di berbagai daerah terdampak banjir. Situasi kesehatan pengungsi menjadi perhatian serius pemerintah.
Data pembaruan hingga 31 Desember 2025 pukul 13.00 WIB menunjukkan angka yang cukup tinggi. Jumlah kasus ISPA tercatat mencapai 17.150 kasus. Sementara itu, penyakit kulit tercatat sebanyak 13.107 kasus. Angka tersebut terus dipantau oleh petugas kesehatan. Pemerintah menilai kondisi ini perlu penanganan berkelanjutan.
Penyakit pernapasan dan kulit mendominasi laporan kesehatan di lokasi pengungsian. Banyak pengungsi mengeluhkan batuk, pilek, dan sesak napas. Keluhan gatal dan iritasi kulit juga sering dilaporkan. Hal ini terjadi akibat lingkungan yang belum sepenuhnya pulih. Dampak banjir masih dirasakan oleh para korban.
Sekretaris Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Hamid, menjelaskan penyebab utama meningkatnya kasus tersebut. Ia menyebut kondisi sanitasi pascabencana belum optimal. Lingkungan lembap menjadi faktor pendukung berkembangnya penyakit. Air tercemar turut memperburuk situasi kesehatan. Pengungsi berada dalam kondisi yang rentan.
Kepadatan di lokasi pengungsian juga berpengaruh besar. Banyak pengungsi harus tinggal bersama dalam ruang terbatas. Sirkulasi udara yang kurang baik memicu ISPA. Kontak fisik yang intens meningkatkan risiko penularan. Kondisi ini memerlukan perhatian khusus.
Penyakit kulit umumnya muncul akibat kontak langsung dengan air banjir. Air tersebut mengandung lumpur dan kotoran. Paparan berkepanjangan menyebabkan iritasi dan infeksi. Kebersihan pribadi sulit dijaga di pengungsian. Hal ini memperparah risiko penyakit kulit.
Dinas Kesehatan Sumut terus mengerahkan tenaga medis ke lokasi terdampak. Pos pelayanan kesehatan didirikan di sejumlah titik pengungsian. Pemeriksaan kesehatan dilakukan secara rutin. Obat-obatan disalurkan sesuai kebutuhan. Layanan kesehatan diberikan secara gratis.
Selain pengobatan, edukasi kesehatan juga dilakukan. Petugas memberikan imbauan terkait kebersihan diri. Pengungsi diminta rutin mencuci tangan. Penggunaan masker dianjurkan untuk mencegah ISPA. Edukasi ini penting untuk menekan angka penyakit.
Pemerintah daerah bekerja sama dengan berbagai pihak. Bantuan dari relawan dan organisasi kemanusiaan turut disalurkan. Fasilitas sanitasi darurat dibangun di pengungsian. Air bersih didistribusikan secara berkala. Upaya ini bertujuan memperbaiki kondisi lingkungan.
Hamid menegaskan bahwa sanitasi menjadi kunci utama pencegahan penyakit. Lingkungan yang bersih dapat menurunkan risiko penularan. Pemerintah terus berupaya mempercepat pemulihan sanitasi. Proses ini dilakukan secara bertahap. Kesehatan pengungsi menjadi prioritas utama.
Anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling rentan. Sistem kekebalan tubuh mereka cenderung lebih lemah. Oleh karena itu, perhatian khusus diberikan. Pemeriksaan kesehatan dilakukan lebih intensif. Pencegahan menjadi langkah utama.
ISPA yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan komplikasi. Kondisi ini berbahaya bagi kelompok rentan. Penyakit kulit juga dapat berkembang menjadi infeksi serius. Penanganan dini sangat diperlukan. Petugas medis terus siaga di lapangan.
Pemerintah provinsi mengimbau masyarakat tetap waspada. Pengungsi diminta segera melapor jika mengalami keluhan kesehatan. Deteksi dini sangat membantu proses pengobatan. Kerja sama antara petugas dan masyarakat sangat penting. Hal ini demi keselamatan bersama.
Selain pengungsian, beberapa warga masih bertahan di rumah terdampak. Mereka juga berisiko mengalami penyakit serupa. Dinas Kesehatan melakukan kunjungan ke permukiman warga. Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh. Tidak hanya pengungsi yang diperhatikan.
Curah hujan tinggi yang masih berpotensi terjadi menjadi tantangan tersendiri. Risiko banjir susulan masih ada. Kondisi ini dapat memperpanjang masa pengungsian. Pemerintah terus melakukan antisipasi. Kesiapsiagaan kesehatan ditingkatkan.
Ketersediaan obat-obatan terus dipastikan mencukupi. Stok obat ISPA dan penyakit kulit diprioritaskan. Distribusi dilakukan sesuai kebutuhan lapangan. Pemerintah tidak ingin terjadi kekurangan obat. Koordinasi lintas sektor terus dilakukan.
Hamid menyampaikan bahwa penanganan kesehatan pascabencana membutuhkan waktu. Pemulihan tidak bisa dilakukan secara instan. Namun pemerintah berkomitmen hadir di tengah masyarakat. Upaya maksimal terus dilakukan. Kesehatan pengungsi tetap menjadi fokus utama.
Masyarakat juga diimbau menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Sampah harus dikelola dengan baik. Genangan air perlu segera dibersihkan. Langkah sederhana dapat mencegah penyakit. Peran aktif masyarakat sangat dibutuhkan.
Hingga awal Januari 2026, kasus penyakit masih terus dipantau. Dinas Kesehatan rutin memperbarui data. Langkah evaluasi dilakukan secara berkala. Strategi penanganan disesuaikan dengan kondisi lapangan. Pemerintah mengedepankan pendekatan preventif.
Lonjakan kasus ISPA dan penyakit kulit menjadi dampak nyata banjir. Kondisi lingkungan pascabencana sangat memengaruhi kesehatan. Penanganan terpadu menjadi kunci pemulihan. Sinergi pemerintah dan masyarakat sangat diperlukan. Diharapkan kondisi kesehatan pengungsi segera membaik.
